Kata Sandya Bagian 1 : Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi?

"Percuma sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya susah juga cari kerja, masih nganggur juga, paling nanti balik ke dapur juga"

Familiar dengan ujaran seperti itu. Biasanya di ucapkan oleh kaum yang mencoba mencari pembelaan atas kedangkalan berpikir mereka. Seolah-olah pendidikan merupakan suatu hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Terlebih dengan pola pikir konvensional yang menerangkan bahwa pendidikan semata-mata hanya untuk cari kerja. 

Tidak salah sebenarnya, kita tidak bisa menyangkal kalau pendidikan merupakan salah satu prasyarat yang dikualifikasikan atas suatu posisi pekerjaan yang ditawarkan. Tapi, pendangan semacam itu menurutku adalah bentuk penyempitan sudut pandang, sebuah pola yang perlu diluruskan. Argumen semacam itu menghadirkan suatu kondisi tidak menguntungkan bagi peradaban, khususnya pada mindset, efeknya panjang dan domino, salah satu yang mengerikan adalah degradasi moral.

Jika dikupas satu persatu, pendidikan, ketersediaan pekerjaan, kecerdasan, dan pilihan hidup merupakan ssuatu hal yang berlainan, saling terkait namun melibatkan multifaktor yang jelas tidak bisa dipahami hanya dari satu kacamata pandang.

Pendidikan merupakan sarana aktualisasi diri, juga sebuah proses berkelanjutan dalam fase kehidupan. Sekolah merupakan salah satu tempat penempaan tersebut. Seperti kita tahu, pendidikan itu terdiri dari banyak jenis, ada pendidikan formal, nonformal dan informal. Sekolah merupakan bentuk pendidikan formal yang dilaksanakan secara berjenjang dari sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi. Pendidikan sendiri bukan hanya bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kompetensi akademik saja, tetapi secara lebih luas bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan karakter yang baik.

Sekurang-kurangnya, orang yang berpendidikan mampu mengelola dan menyelaraskan kemampuan akademik yang dimilikinya dengan karakter yang baik pula, didukung oleh kecerdasan emosional yang memadai, sehingga orang yang berpendidikan memiliki kemampuan untuk berpikir dan berargumen secara logis, berbudi pekerti luhur, memiliki adab dan tata krama, empati dan toleransi terhadap sesama. Setidaknya, pendidikan membentuk seseorang bukan hanya berketerampilan tetapi juga berkarakter.

Sementara untuk membahas pekerjaan, kita perlu menganalisis dan memahami banyak lini. Orang cerdas dan berpendidikan yang memiliki karir cemerlang banyak sekali jumlahnya, namun orang cerdas dan berpendidikan yang tergeser dari persaingan karir juga tidak kalah banyak. Hal ini multifaktor, tidak bisa dipahami dari sudut pendidikannya saja, faktor lain yang berpengaruh misalnya adalah privillage atau koneksi yang menghadirkan fenomena orang dalam atau mafia dalam pekerjaan. Di mana orang-orang yang duduk di pucuk pimpinan tidak semata-mata orang yang mampu, tetapi orang yang mau, asal ada uang semua gampang katanya.

Jadi, menurut saya mengaitkan pendidikan dan pekerjaan merupakan pengkerdilan sudut pandang. Banyak posisi strategis dan vital di duduki oleh orang-orang kurang kompeten, karena keistimewaan tertentu ia bisa melejit di pucuk pimpinan. Alhasil banyak kehancuran karena praktik ini, tetapi kondisi seperti ini tidak bisa dihindari.

Ngomongin soal privillage dalam pekerjaan, jadi inget kualifikasi pekerjaan negara kita saat ini yang menurutku sangat tidak masuk akal. Sebuah posisi pekerjaan oleh si borjuis ditawarkan dengan kualifikasi yang sangat tinggi, namun tidak di iringi dengan pengupahan yang sebanding dengan beban kerja yang diberikan. Miris sekali, namun kenyataannya hal ini terjadi. Kualifikasi yang sangat hiperbol ini menggugurkan kaum proletar yang mencoba memperbaiki kualitas hidupnya. 

Bisa dibayangkan bagaimana tidak masuk akalnya kuliah yang harus dituntut sempurna secara akademik, namun juga harus aktif dalam berorganisasi dengan dalih memperluas relasi. Setelah lulus, masuk persaingan kerja dihantam dengan kualifikasi, harus berpengalaman katanya. Lengah dikit, kalah sama yang berduit, sungguh kondisi yang menyedihkan.  

Setidaknya, dengan berpendidikan kita punya pedoman yang kuat, karakter yang hebat, setidaknya untuk menyiapkan generasi selanjutnya, walau pada dasarnya perjuangan proletar selalu lebih sulit dan berdarah-darah, sekurangnya hanya untuk bertahan hidup. Dan kursi kekuasaan selalu diwariskan secara turun temurun oleh borjuis, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, begitulah adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Sandya Bagian 2 : Anak Jaman Sekarang Ga Punya Tata Krama?