RASA SANDYA BAGIAN 2 : SEKELUMIT RASA DALAM KATA

Kalau dibilang menyesal, mungkin tidak ya. Aku sangat mengapresiasi diriku sendiri, jelas ini bukan untuk berbangga diri, sama sekali. Setidaknya serumit apapun jalannya, aku sudah berhasil menentukan pilihanku sendiri, walaupun tidak mudah, aku bersyukur karena berani menanggung segala konsekuensi. Walau tertatih, pasti, risiko ini adalah harga yang sedang ku pertaruhkan.

Konon katanya, “sesuatu yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah di menangkan”. Kalimat itulah yang membesarkan hatiku, membulatkan tekadku, dan membentukku hingga saat ini. Selagi masih muda, daya juangnya harus tangguh di kokohkan. Selagi sudah berusaha, tidak pernah ada kata gagal, walau kadang belum menang dalam pertarungan, setidaknya menang dalam keikhlasan, ‘kan?

Karena sejatinya, musuh sejatinya itu bukan orang lain, tapi diri sendiri. Terkadang diri kita sendirilah yang mengkerdilkan asumsi diri, merasa kurang dalam segala hal, menggeneralkan standar, padahal potensinya berbeda, jalannya juga berbeda, bahkan tujuannya berbeda, tidak layak jika ukurannya disamakan, ‘kan?

Selagi kita sudah memberikan yang terbaik, bagiku sudah hebat. Karena aku yakin, setiap orang punya definisi hebatnya masing-masing, dan punya caranya masing-masing untuk menuju hebatnya tersebut. Minimal, “hari ini lebih baik dari hari kemarin”, katanya. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya untuk menikmati apa yang terjadi dalam setiap momen hidup.

Karena terkadang, kita sering terbuai dalam ambisi, mengejar ini itu yang hakikatnya nihil. “Semua akan berlalu”, ‘kan?. Susah senang tidak ada yang abadi, jadi jangan bersombong diri ketika senang dan jangan berkecil hati ketika susah, begitulah kira-kira dawuh pak faiz. Jadi, kuncinya, “belajarlah dari kemarin, hiduplah untuk hari ini. dan berharaplah untuk hari esok”, kata einstein.

Jangan sampai ambisi membiaskan makna hidup atau mengaburkan lini masa. Biarlah semua berjalan sesuai dengan waktunya, tanpa mengurangi usaha dan tawakkal kita. Menurutku, inilah pentingnya kita menyadari peran kita, jadilah manusia sebagaimana manusia, jangan jadi tuhan. Perlu diketahui bahwa rangkaian kisah, susah, resah, bungah, inilah yang membentuk kita saat ini. Kehilangan satu momen, maka kita bukanlah yang ada saat ini. Percayalah.

Cukup, tidak banyak, akan di sambung lagi di lain masa.

 

 

Komentar