Olah Rasa : Filsafat Mulyo Lan Rekoso

Di suatu siang, di sebuah pematang sawah, ku dapati beberapa orang tengah rehat, ternyata menerjang terik surya melelahkan juga, batinnya. Kulit mereka legam terpapar sinar, tangan kakinya melepuh beradu dengan tanah dan cangkul, bajunya kotor tertimpa lumpur, tapi mereka tampak sangat bahagia.

Sesuap nasi berlauk teri, bukan barang istimewa, namun sangat lezat kelihatannya. Mereka sesekali bercengkerama, tampak sepertu tidak merasakan beban yang hebat, ditengah ketidakpastian harga sayur yang fluktuatif, harga pupuk yang mahal, atau serangan hama yang mungkin berdatangan. Sial sekali, pekerjaan ini ayem walau rekoso, pungkasnya.

Selesai makan, mereka minum air yang langsung diteguk dari kendi, rasanya lebih nyes katanya. Orang jaman sekarang mana ngerti mulyone dadi petani, kata mereka menuturi. Mulyo pikiran, hasil ora sepiro nanging kuwawa ngopeni keluargo, lanjutnya. Aku tersenyum, melihat sekeliling. Hamparan tanah yang membentang, dihiasi hijau tetumbuhan, menentang datangnya malam, seolah-olah tak ada jemu bersua setiap harinya.

Mereka meraih kembali capingnya, mematut di kepalanya, kemudian menyahut cangkulnya, lanjut untuk memaculi lahannya. Di tanduri pari, jagung, opo kacang, kang? Sekelebat kata yang samar ku dengar, entahlah, apapun itu mereka akan selalu aman dalam pangan, dengan gizi yang lebih bisa dipertanggungjawabkan. Walau tidak jarang, makanan mereka dianggap kuno, nggak kekinian, kata beberapa orang.

Aku terkekeh, mengkaji ulang kata mulyo yang selalu mereka gaungkan, tapi mereka benar. Setidaknya merdeka dari belenggu konflik kepentingan, atau eksploitasi sumber daya manusia, setidaknya lebih merdeka dari kita kelompok intelektual yang seringkali masih menghamba pada korporat, sial. Tapi katanya, tidak ada yang salah, kerjamu di ruangan, ga harus panas-panasan, kerjamu berbasis pikiran, ndak perlu ngos-ngosan, hari minggu bisa liburan, tanggal satu pasti gajihan, ungkap mereka.

Aku tergelak, lucu sekali sawang sinawang ini, poin pentingnya, jangan pernah lupa di syukuri, apapun yang terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Sandya Bagian 1 : Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi?

Kata Sandya Bagian 2 : Anak Jaman Sekarang Ga Punya Tata Krama?