RASA SANDYA BAGIAN 1 : PETUALANGAN DAN LUKA
Katanya, selagi masih muda "mengembaralah", nikmati tiap langkah diantara hamparan bumi yang luas. "Berpetualanglah" betemulah dengan banyak isi kepala, bertukar rasa dengan banyak telinga atau sekadar bercengkrama dengan banyak nuansa. Mungkin hal ini relate ya untuk beberapa orang. Tapi bagi seseorang yang sebagian hatinya telah koyak karena ujian yang dideritanya, mungkin hal ini bukan yang pertama dipikirkan.
Bagi seseorang yang mungkin mengalami hal sama dengan aku, dihadapkan pada kondisi sulit karena orang tua yang jatuh sakit, mungkin kata mengembara atau berpetualang di luar sana bukan lagi hal yang di idamkan, menikmati waktu bersama orang tua menjadi lebih berharga, setidaknya sekadar melihatnya tersenyum dan bangkit dari rasa sakitnya.
Bagiku, ini bukan sebuah sial maupun sesal. Ini adalah momentum yang sangat berharga. Dan aku menikmatinya, pergi untuk cepat-cepat kembali, memastikan senyum itu tetap merekah di tengah rasa sakit yang belum usai. Aku sudah cukup menerima semuanya. Bagiku hal ini juga sebuah perjalanan pendewasaan yang tak kalah berharga dari petualangan diluar sana.
Walau tikda bisa dipungkiri, 3 tahun belakangan ini terasa lebih berat dari biasanya, beberapa luka datang secara bersama-sama. Tak jarang aku mengutuki keadaan atau marah kepada tuhan, sial pemikiran yang sangat dangkal. Terbelit pada keadaan sulit, gagal, jatuh, hilang arah, lengkap sekali luka yang menimpa.
Tapi menolak takdir juga pilihan yang konyol, sehancur apapun takdir tetap akan hadir, bumi akan tetap berputar, dan hidup akan tetap berjalan. Tidak peduli kita siap atau tidak, kita mau atau tidak, kita suka atau tidak. Yang terjadi, terjadilah, itu adalah kata yang paling logis dalam menghadapi takdir. Toh, pada akhirnya semua selesai dan berlalu juga, kan? Kita hanya takut pada kemungkinan, pada bayangan abstrak tentang garangnya kehidupan, walau hancur nyatanya kita bisa jadi lebih kuat, selalu dan pasti ada hal baik yang membentuk kita menjadi lebih baik di antara kehidupan yang sulit.
Kenyataannya, aku menjadi belajar banyak hal dari rasa sakit dan luka ini. Jadi, rasa sandya yang pertama menyimpulkan, jangan pernah menghindari atau menolak luka, tumbuhlah berseiring dengan luka, karena luka adalah sebuah kekuatan yang dihadirkan dalam bentuk yang menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar