RASA SANDYA BAGIAN 3 : SETITIK ASA DI UJUNG RUANG HEMODIALISA
Ruangan ini riuh dengan suara alarm, pertama kali masuk, aku terkejut melihat darah yang disaring melalui sebuah mesin dialisis. Orang-orang terbaring pada sebuah bed, mereka terlihat pucat, ada yang terlihat murung, ada yang berusaha membangkitkan semangat, dan beberapa lemas tertidur bersama infusnya. Akan tetapi, ketahuilah bahwa ketulusan tercermin sangat jelas di ruangan itu.
Kata orang, kalau lagi kufur masuklah ke rumah sakit, disanalah ladang
syukur. Ungkapan ini bukan sebuah ungkapan untuk memarginalkan mereka,
seolah-olah mereka tak pernah dapat rahman dan rahim dari sang kuasa, justru
mereka adalah representasi kekuatan, ketulusan, dan kehebatan. Mereka adalah
simbol kekuasaan Tuhan.
Aku menggandeng lengan ayahku, ayahku adalah salah satu bagian dari simbol kekuatan
itu, sebuah perjalanan hebat untuk bangkit dari rasa sakit. Awalnya, aku
mengutuki keadaan ini, kenapa harus begini, sesalku setiap waktu, dan kenapa
harus ayahku?, protesku pada tuhan.
Di sudut ruangan, ku temui seorang paruh baya, terbaring sendirian, dengan
tas merah di sampingnya, ia mungkin berangkat sendirian, batinku. Aku mendekat
ke arahnya, ia seketika terbangun dan bertanya, “lagi nganter ayahnya mba?”,
ku balas dengan anggukan ramah.
Perbincangan itu semakin mengalir, sudah tujuh tahun katanya ia berjuang
melawan sakitnya, gagal ginjal. Ia rutin hemodialisa dan selalu berangkat
sendirian. Ia tak banyak bercerita tentang keluarganya, satu-satunya yang
disampaikannya adalah, selagi masih dikasih kesempatan, digemateni bapaknya
ya mbak, wong tuo siji iso ngopeni anak limo, nanging anak limo ora koma-koma
biso ngopeni wong tuo.
Ia memutar lengannya, meraih tas dan membukanya, di dalamnya ia mengambil
bekal di sebuah tepak kecil berwarna bening, bersama dengan sebuah botol aqua
yang sudah lusuh. Ia memandangiku ramah, mbak kulo tak maem riyin nggih, aku
mengangguk, dan berpaling ke arah ayahku, ternyata sedang tertidur pulas.
Kulo nek mlampah mriki piyambakan mbak, larene
mpun berkeluarga sedoyo, uripe sami mawon kados kulo, kulo mboten kuoso
nyekolahke, mboten wonten biayane, tuturnya. Aku tidak tau harus berkata apa, lagi dan lagi aku tersenyum ke
arahnya, ku dapati telunjuknya mengarahkan pada sebuah motor mio warna hijau,
ia ceritakan hari senin dan kamisnya bersama motor tua itu, yang kadang rewel,
atau kebanan di jalan.
Motor itulah yang mengantar dan menemani masa tuanya untuk datang ke ruang hemodialisa
ini, kira-kira satu setengah jam perjalanan, belum dengan hujan, petir atau panas
macet yang dilewatinya. Sesekali kadang badannya merasa tak enak, keluhnya. Tensinya
naik turun, hemoglobinnya juga, kadang lemas, kadang pusing, tapi mau
bagaimana lagi, sambungnya.
Tak terasa, mataku sembab, namun aku sesegera mungkin menutupinya. Air mata
mengalir begitu saja. Aku menunduk membereskan rapuhku. Ia masih melanjutkan
cerita, jadi orang miskin dan nggak punya pendidikan itu susah mbak, mbaknya
yang semangat kuliahnya, angkat derajat orang tuanya, ben biso mulyakke wong
tuo, ungkapnya.
Ia masih mengunyah makanannya, nasi berlauk telur dadar seperempat bagian, sesekali
ia meneguk minumnya. Tak lama, ia mengusaikan makannya, ia kembali berbaring. Aku
membiarkannya, hening, aku berbalik membiarkarkan ia terlelap dalam tidurnya. Pertemuan
singkat yang sangat berarti, terutama untuk manusia kufur sepertiku,
setidaknya diantara ribuan cerita jahat semesta, ada satu nikmat luar biasa
yang tiada terkira, nikmat sehat.
Aku selalu menunggu hari senin dan kamis untuk berbagi cerita dengan
laki-laki paruh baya yang penuh makna itu. Sesekali aku membawakannya makanan,
aku merasa sangat bahagia ketika motor mio hijau terparkir rapi di ujung
halaman hemodialisa itu, setidaknya harapan demi harapan masih dilangitkan,
walau berdiri di antara kesakitan yang tak berkesudahan.
Hingga, satu tahun setelahnya, ku dengar berita duka mengepul memenuhi isi
telingaku. Aku terpukul mendengarnya, beberapa waktu aku masih teringat jelas
ukara dan petuahnya. Mungkinkah harapan itu telah usai, batinku. Tidak,
setidaknya ia sudah usai dengan sakitnya, dan berpulang dengan bahagia. Selamat
jalan, tauladan, surga yang kau rindukan akan segera datang.
Komentar
Posting Komentar