Postingan

RASA SANDYA BAGIAN 3 : SETITIK ASA DI UJUNG RUANG HEMODIALISA

Ruangan ini riuh dengan suara alarm, pertama kali masuk, aku terkejut melihat darah yang disaring melalui sebuah mesin dialisis. Orang-orang terbaring pada sebuah bed , mereka terlihat pucat, ada yang terlihat murung, ada yang berusaha membangkitkan semangat, dan beberapa lemas tertidur bersama infusnya. Akan tetapi, ketahuilah bahwa ketulusan tercermin sangat jelas di ruangan itu. Kata orang, kalau lagi kufur masuklah ke rumah sakit, disanalah ladang syukur. Ungkapan ini bukan sebuah ungkapan untuk memarginalkan mereka, seolah-olah mereka tak pernah dapat rahman dan rahim dari sang kuasa, justru mereka adalah representasi kekuatan, ketulusan, dan kehebatan. Mereka adalah simbol kekuasaan Tuhan. Aku menggandeng lengan ayahku, ayahku adalah salah satu bagian dari simbol kekuatan itu, sebuah perjalanan hebat untuk bangkit dari rasa sakit. Awalnya, aku mengutuki keadaan ini, kenapa harus begini, sesalku setiap waktu, dan kenapa harus ayahku?, protesku pada tuhan. Di sudut ruangan, k...

Olah Rasa : Filsafat Mulyo Lan Rekoso

Di suatu siang, di sebuah pematang sawah, ku dapati beberapa orang tengah rehat,  ternyata menerjang terik surya melelahkan juga , batinnya. Kulit mereka legam terpapar sinar, tangan kakinya melepuh beradu dengan tanah dan cangkul, bajunya kotor tertimpa lumpur, tapi mereka tampak sangat bahagia. Sesuap nasi berlauk teri, bukan barang istimewa, namun sangat lezat kelihatannya. Mereka sesekali bercengkerama , tampak sepertu tidak merasakan beban yang hebat, ditengah ketidakpastian harga sayur yang fluktuatif , harga pupuk yang mahal, atau serangan hama yang mungkin berdatangan. Sial sekali, pekerjaan ini ayem walau rekoso , pungkasnya. Selesai makan, mereka minum air yang langsung diteguk dari kendi, rasanya lebih nyes katanya. Orang jaman sekarang mana ngerti mulyone dadi petani , kata mereka menuturi. Mulyo pikiran, hasil ora sepiro nanging kuwawa ngopeni keluargo , lanjutnya. Aku tersenyum, melihat sekeliling. Hamparan tanah yang membentang, dihiasi hijau tetumbuhan, menentan...

RASA SANDYA BAGIAN 2 : SEKELUMIT RASA DALAM KATA

Kalau dibilang menyesal , mungkin tidak ya. Aku sangat mengapresiasi diriku sendiri, jelas ini bukan untuk berbangga diri, sama sekali. Setidaknya serumit apapun jalannya, aku sudah berhasil menentukan pilihanku sendiri, walaupun tidak mudah, aku bersyukur karena berani menanggung segala konsekuensi. Walau tertatih, pasti, risiko ini adalah harga yang sedang ku pertaruhkan. Konon katanya, “sesuatu yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah di menangkan” . Kalimat itulah yang membesarkan hatiku, membulatkan tekadku, dan membentukku hingga saat ini. Selagi masih muda , daya juangnya harus tangguh di kokohkan. Selagi sudah berusaha, tidak pernah ada kata gagal, walau kadang belum menang dalam pertarungan, setidaknya menang dalam keikhlasan, ‘kan? Karena sejatinya, musuh sejatinya itu bukan orang lain, tapi diri sendiri . Terkadang diri kita sendirilah yang mengkerdilkan asumsi diri, merasa kurang dalam segala hal, menggeneralkan standar, padahal potensinya berbeda, jalannya ...

RASA SANDYA BAGIAN 1 : PETUALANGAN DAN LUKA

Katanya, selagi masih muda "mengembaralah" , nikmati tiap langkah diantara hamparan bumi yang luas. "Berpetualanglah" betemulah dengan banyak isi kepala, bertukar rasa dengan banyak telinga atau sekadar bercengkrama dengan banyak nuansa. Mungkin hal ini relate ya untuk beberapa orang. Tapi bagi seseorang yang sebagian hatinya telah koyak karena ujian yang dideritanya, mungkin hal ini bukan yang pertama dipikirkan. Bagi seseorang yang mungkin mengalami hal sama dengan aku, dihadapkan pada kondisi sulit karena orang tua yang jatuh sakit, mungkin kata mengembara atau berpetualang di luar sana bukan lagi hal yang di idamkan, menikmati waktu bersama orang tua menjadi lebih berharga, setidaknya sekadar melihatnya tersenyum dan bangkit dari rasa sakitnya.  Bagiku, ini bukan sebuah sial maupun sesal. Ini adalah momentum yang sangat berharga. Dan aku menikmatinya, pergi untuk cepat-cepat kembali, memastikan senyum itu tetap merekah di tengah rasa sakit yang belum usai. Aku ...

Kata Sandya Bagian 2 : Anak Jaman Sekarang Ga Punya Tata Krama?

"Anak jaman sekarang ga ada sopan-sopannya ya, kayak ga punya tata krama" Relate ga nih? Aku jadi terpantik nulis ini, kebetulan tadi siang baru banget di telpon ibuku, beliau minta disamperin ke kerjaan, katanya ada pegawai dari bank buat pelayanan pembukaan rekening baru, karena ibuku emang generasi yang bisa dibilang "gaptek", takut ga bisa mengoperasikan kayak yang lain aku disuruh datang kesana, padahal ada mba dari bank terkait yang siap membantu proses pembukaan rekeningnya. Pasti ada yang ga beres, batinku. Itu baru intro ya, sebelum ke intinya, aku mau lanjut dulu ceritanya. Pas di telpon aku posisi lagi di rumah, kebetulan belum mandi, kurang nyaman pergi keluar dengan kondisi berantakan, aku minta izin untuk mandi dulu sebelum datang ke tempat kerja ibuku. Aku bilang kalau ada kesulitan, sementara aku belum datang minta tolong mba nya untuk bantuin dulu. Singkat cerita, aku mandi dan siap-siap. By the way, hp ibuku juga agak rusak, mungkin itu juga salah ...

Kata Sandya Bagian 1 : Percuma Sekolah Tinggi-Tinggi?

"Percuma sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya susah juga cari kerja, masih nganggur juga, paling nanti balik ke dapur juga" Familiar dengan ujaran seperti itu. Biasanya di ucapkan oleh kaum yang mencoba mencari pembelaan atas kedangkalan berpikir mereka. Seolah-olah pendidikan merupakan suatu hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Terlebih dengan pola pikir konvensional yang menerangkan bahwa pendidikan semata-mata hanya untuk cari kerja.  Tidak salah sebenarnya, kita tidak bisa menyangkal kalau pendidikan merupakan salah satu prasyarat yang dikualifikasikan atas suatu posisi pekerjaan yang ditawarkan. Tapi, pendangan semacam itu menurutku adalah bentuk penyempitan sudut pandang, sebuah pola yang perlu diluruskan. Argumen semacam itu menghadirkan suatu kondisi tidak menguntungkan bagi peradaban, khususnya pada mindset, efeknya panjang dan domino, salah satu yang mengerikan adalah degradasi moral. Jika dikupas satu persatu, pendidikan, ketersediaan pekerjaan, kecerdasan,...